This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Sabtu, 10 September 2011
Cara Kerja Sistem Pengapian Platina {Mobil Jadul}
Sistem pengapian mobil-mobil modern tak lepas dari perkembangan teknologi sistem pengapian pada mobil jadul alias masih menggunakan platina sebagai plat kontak untuk menghubungkan dan memutus aliran listrik primer koil agar terjadi induksi/GGL pada sekunder yang berupa listrik tegangan tinggi untuk mensuplai busi agar memercikkan bunga api. Platina mobil berupa plat kontak yang berfungsi sebagai penghubung & pemutus yang di hubungkan oleh ebonit/kaki platina dan di kontrol oleh nok delco(Distributor), apabila kaki ebonit tidak terdorong oleh nok delco maka plat kontak akan terhubung sekaligus mengalirkan aliran listrik primer koil ke ground dan menciptakan medan magnet pada primer coil, dan pada saat nok delco menyentuh/mendorong ebonit platina maka listrik dari primel coil akan terputus, pada saat listrik primer coil terputus maka terjadi GGL/induksi tegangan tinggi pada sekunder coil, dengan adanya kondesor/kapasitor yang terhubung secara paralel dengan platina akan membantu meningkatkan besar induksi dan menghilangkan bunga api pada saat platina mulai terbuka/memutus, hal ini bertujuan agar plat kontak platina tidak mudah terbakar dan mampu berumur panjang. Besar/lamanya saat platina terhubung di pengaruhi oleh lebar Permukaan AS delco yang rata/datar hal ini di sebut dengan sudut dwell, dimana sudut/lama saat platina menghubungkan aliran listrik ke primer coil. Apabila celah platina kita bikin rapat so pasti sudut dwell akan menjadi besar dan kebalikannya.
Kamis, 28 Juli 2011
Waspada Pakai CDI Shogun
| |
Perlu diwapadai, asal pakai atau caplok itu bahaya. Walau bebas limiter, tapi pengapian bisa kelewat maju. Piston bisa bolong, karena piston sedang naik, bunga api meletik lebih awal. Akhirnya piston beradu dengan ledakan. Bisa pecah.
Misalkan CDI Shogun 110 dipasang di Honda Karisma. Ketika putaran menengah ke atas, timing pengapian mencapai 53 sebelum TMA. Sangat advance atau kelewat awal. Piston bisa bolong.
Padahal, pengapian Shogun 110 standar, timing terbesar 29 sebelum TMA. Dipakai di Karisma sangat jauh majunya. Untuk itu harus tahu cara kerja dan modifikasinya supaya Karisma bisa pakai CDI Shogun dan aman.
Menurut Herianto, cara kerja CDI Shogun 110 masih analog. Sehingga sangat mudah seting timing pengapian secara mekanis. “Mekanik awam juga bisa melakukan,” jelas Herianto yang Technical Service CDI BRT ini.
Derajat timing pengapian bisa diatur lewat panjang pick up pulser. Tonjolan pick up pulser bisa dilihat di mangkuk magnet. Di Shogun panjangnya hanya 14 mm. Kalau Karisma 38 mm.
Ketika langsam sampai dengan putaran mesin mencapai 2.500 rpm, timing pengapian hanya 15 sebelum TMA.
Angka 15 didapat dari jarak ujung tonjolan belakang pick up sampai posisi pulser 15 mm atau 15. Lebih jelas lihat (Gbr. 1). Bisa mudah dibaca?
Pada putaran mesin lebih dari 2.500 rpm, timing pengapian akan bertambah. Yaitu 15° ditambah panjang pick up atau tonjoan Shogun yang 14 mm. Berarti timing jadi 15 + 14 = 29 derajat.
Bayangkan kalau dipasang di Karisma yang punya tonjolan pick up 38 mm. Jadinya timing pengapian 15° + 38° = 53° sebelum TMA. Sangat maju sekali dan harus dimodifikasi.
Modifikasi tergantung kemauan dari mekanik. Misalkan timing pengapian masih tetap seperti Shogun 110. “Maka panjang tonjolan pick up di magnet Karisma harus dipotong,” saran Heri yang beken dipanggil Bombom itu.
Bagian mana pick up yang dipotong? Agar tidak salah kaprah perhatikan arah putaran mesin. Nah, tonjolan yang dipotong atau diratakan bagian depan. Kalau dilihat bagian sebelah kiri.
Untuk meratakan tonjolan pick up, bisa menggunakan gerinda. Panjang pemotongan bisa dihitung. Panjang pick up Karisma dikurangi panjang pick up Shogun 110. Jadinya panjang yang dipotong 38-14 mm = 24 mm.
Pick up yang di potong bagian depan (kiri). Panjang pick up pulser. Dimodif sesuai derajat di mau. Tapi hanya untuk CDI Analog (kanan)
Sangat gampang sekali. Tinggal dikalkulasi dengan cara sederhana. Timing awal atau langsam 15°, agar jadi 32 tinggal ditambah dari panjang pick up. Jadinya panjang pick up harus dibuat menjadi 17 mm.
Jangan Terbalik
Sebenarnya sayang kalau motor yang baru kembali lagi menggunakan CDI Shogun. Itu bisa dibilang sama seperti kembali lagi ke zaman dulu.
Untuk menghilangkan limiter, caranya bisa menggunakan CDI yang unlimiter atau racing. Karena sekarang sudah dijual murah. Bahkan lebih murah dari CDI Shogun standar.
Misalkan CDI Varro yang promosinya unlimiter. Walau kurva pengapian sama dengan standar namun tetap lebih maju dibanding CDI Shogun yang perubahan timingnya hanya sedikit.
Yang dimaksud sedikit timingnya hanya 15 di rpm bawah dan 29 lewat dari langsam. Kurvanya akan begitu sampai rpm tinggi. Ini tidak menguntungkan, padahal di motor sekarang bisa berubah setiap 3.000 rpm
Selain itu, juga bisa merusak magnet. Sebab pick up atau tonjolan di magnet harus digerus. Kalau dikembalikkan lagi ke versi standar jadi lebih susah. Tetap CDI racing lebih fleksibel karena bisa diprogram.
Kurva Sederhana
Pada CDI analog, memang susah dibikin beberapa step pengapian. Timingnya hanya terbatas untuk langsam dan putaran tinggi.
Seperti CDI Shogun 110. Pada saat langsam, timing pengapian 15 sebelum TMA. Pada putaran menengah dan rpm tinggi stag di 29. Akan turun di rpm lebih dari 11.000.
Tidak seperti CDI digital yang banyak dipakai di motor sekarang. Timing pengapian bisa dibuat beberapa step. Bisa diprogram setiap 500 atau bahan 100 rpm bisa dibuat berubah.
Makanya CDI analog ditinggalkan oleh pabrikan motor sekarang. Ciri CDI analog ini pada ukuran pick up pulser, sangat pendek. Seperti Suzuki Shogun 110 punya panjang pick up hanya 14 mm.
Berbeda dengan motor yang mengnut CDI sudah digital. Seperti Karisma panjang pick up 38 mm. Yamaha Jupiter-Z atau Mio 57,5 mm. Ini yang membuat bisa diprogram dalam banyak step.
Rabu, 27 Juli 2011
peringatan tukar pakai cdi !!
| Banyak yang salah kaprah saling tukar CDI. Repot urusannya, kalo salah beli gak bisa ke pake, apalagi sekarang jamannya CDI digital, Program Tiap motor berbeda, jika dipaksakan mesin akan mberebet dan tenaga loyo.Boleh saja saling tukar CDI asal memenuhi 4 syarat : 1. Panjang Pulser Sama Panjang sensor pulser (pick-up koil) harus sama. Tiap tipe motor berbeda, ada yang panjang ada yang pendek. Untuk motor jaman dahulu biasanya lebih pendek. Untuk Suzuki Shogun 14mm dan Honda Supra hanya 12mm. Ini karena motor dahulu pabrikan menganut CDI Analog. Kurvanya tidak bisa di program. 2. Kurva Tidak Beda Beda dengan motor sekarang. Lihat Honda Karisma 38 mm dan Yamaha Jupiter-Z 57,5 mm. pick-up koil panjang. sebab sudah digital. Kalau dipasangi CDI Programable kurva pengapian bisa macam-macam. Syarat kedua harus tahu derajat pengapian. untuk semua tipe motor, timing pengapian tiap tingkat putaran berbeda, walau terkadang ada yang sama. Lihat Yamaha Jupiter-Z, pada rpm 1.500 sampai 2500 busi meletik 15 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas). Dari 2.500 - 3.500 timing pengapian 32 derajat sebelu TMA. selanjutnya sampai 8.000 rmp masih 32 derajat. Lebih dari itu menjadi ngedrop sampai 30 derajat sebelum TMA. Sebagai Bahan Pebandingan, coba lihat Honda Karisma. Dari rpm 1.500 sampai 2.500 timmingnya 15 derajat sebelum TMA. Dari 2.500 - 3.000, 27 derajat sebelum TMA. Terus sampai lebih darui 8.000 timing konstan. Nah bisa dilihat timing pengapian Shogun dan Kharisma berbeda untuk tiap tingkat putaran, kalau dipaksakan saling tukaran pasti hasilnya gak bagus. 3. Tahu Kelistrikan Hal yang paling gampang dan wajib tentu tahu kelistrikan. Apalagi beberapa CDI kaki-kaki soketnya berbeda, ada yang enam ada yang lima. Tiap kaki harus tahu arahnya kemana. ke koil, aki dan pulser harus hafal betul. Kalau tidak ngerti kaki-kaki CDI, jangan dipaksakan, kalau asal tukar bisa jebol atau kebakar. 4. Kompresi, Timing, Kem Untuk yang senang korek mesin, bila rasio kompresi mesin sudah naik, timing pengapian perlu diubah. maksudnya agar gas bakar dalam silinder tidak dibakar panas kompresi. Makanya waktu pengapian harus dimajukan, biasanya sekitar 2 derajat. Juga buka-tutup klep yang berubah akibat kem di korek, berdampak pengapian perlu diseting, biasanya mekanik bikin klep ngebuka lebih lama dan menutup lebih cepat. ini menyebabkan timing pengapian juga beda, bisa bergerak maju atau mundur. |
Selasa, 26 Juli 2011
cdi
I. Sekilas tentang CDI Digital
Perkembangan teknologi mesin sepeda motor secara mekanikal telah mengalami kemajuan sangat pesat tetapi tidak sebanding dengan perkembanganelectronic yang mengendalikan mesin. Dengan konsepDigital semua perangkat yang dikendalikan akan lebih presisi.
Oleh sebab itu, kami telah melakukan penelitian selama
bertahun-tahun dan mengembangkan sistem pengapian CDI
(Capacitance Discharge Ignition) berbasis teknologi Digital.
Digital CDI yang kami kembangkan bekerjasama dengan
perusahaan terbesar di dunia untuk
microcontroller
(microchip komputer) yaitu Phillips Semiconductor.
Digital CDI adalah sistem pengapian CDIyang
dikendalikan olehmicroco mputer agar Ignition Timing (waktu
pengapian) yang dihasilkan sangat presisi dan stabil sampai
RPM tinggi. Akibatnya pembakaran lebih sempurna dan
hemat bahan bakar, serta tenaga yang dihasilkan akan sangat stabil dan besar mulai dari putaran rendah sampai putaran tinggi. Dengan Digital CDI, emisi yang dihasilkan juga sangat rendah itu sebabnya kami juga menyebut
teknologi Digital CDI kami dengan GREEN CDI (CDI Hijau
= ramah lingkungan).
Digital CDI Hyper Band merupakan pengembangan
pertama yang berbasis digital dengan kurva pengapian terprogram untuk menghasilkanpowerband yang sangat lebar hingga mencapai lebih dari 20.000 rpm tanpa adanya batasan(limiter).
Digital CDI Dual Bandadalah CDI Digitalpengembangan
kedua yang kami ciptakan untuk keperluan Standard, Tune
Up, Racing dan kompetisi. Dengan teknologi Dual Band,
kami menggabungkan seluruh keperluan pemakaian sepeda
motor yaitu :
“Standard & Tune Up, Tune Up & Racing dan Racing &
Competition”.
CDI Dual Band terdiri dari dua kurva pengapian yang
telah diprogram secara permanen dan disesuaikan dengan kebutuhan di atas. Kurva-kurva pengapian tersebut dibuat berdasarkan hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan secara sistematis melalui team Balap “ Bintang Racing Team (BRT)”.
CDI Dual Band juga menganut teknologi Hyper Band
(tanpalimiter) dan dilengkapi ALVP (Automatic Low Voltage
Protection) untuk menghindari kerusakan fatal akibat
tegangansupply yang minim (accu tekor).
CDI Dual Band sangat bermanfaat untuk para pencinta
motor yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Secara garis besar CDI Dual Band terdiri atas beberapa
aplikasi, sbb :
1.Standard dan Tune Up (ST).
2.Tune Up danRa cing (SR).
3.Racing danCompetition (RC).
1.Standard dan Tune Up (ST).
2.Tune Up danRa cing (SR).
3.Racing danCompetition (RC).
Dalam aplikasiRacing dan Competition CDI Dual Band
dapat dipadukan dengan Digital Smart Box.
II.Keun tu nga nCD I BRT
Keuntungan menggunakan CDI BRT adalah sbb :
1. Tenaga kuda (Horse Power) akan meningkat hingga 20%. *
2. Meningkatkan respon dan akselerasi. **
3. Power Band bertambah lebar hingga 2000 RPM.
4. Hemat pemakaian Baterai/AKI hingga 30%.
5. Hemat bahan bakar hingga 29. 0%.***
1. Tenaga kuda (Horse Power) akan meningkat hingga 20%. *
2. Meningkatkan respon dan akselerasi. **
3. Power Band bertambah lebar hingga 2000 RPM.
4. Hemat pemakaian Baterai/AKI hingga 30%.
5. Hemat bahan bakar hingga 29. 0%.***
Catatan :
*)
Diuji pada motor Honda Karisma 125 Standard pada tgl
10 Feb 2005 menggunakan DYNOJET 250i
(Dynamometer) pada temperature 34ºC; kelembaban
34%; 994.5mBar; tenaga kuda 7.96dk pada 9000 Rpm
menjadi 8.66 dk.
**) Diuji pada motor Yamaha RX KING ; pada tgl 10 Feb 2005 menggunakan DYNOJET 250i; akselerasi 0 – 100 km/jam 8 detik menjadi 6 detik pada temperature 35ºC; kelembaban 34%; tekanan 994.4 mBar.
***) Uji coba dilakukan oleh Tabloid Motor Plus edisi No.348/VI sabtu 29 Oktober 2005, hal 7; pada motor Suzuki Shogun 125; penghematan hingga 29.14%
III. Jaminan Kualitas
Semua produk CDI BRT telah 100% melalui UJI KETAHANAN dengan metodaC harging selama 8 jam pada 6000 RPM yang ekivalen dengan pemakaian 5 tahun pada kondisi normal.
Berikut adalah Grafik dengan 2 step advance
Tabel Daftar Panjang Pick Up Pulser
| No | Model | Type | Panjang Tonjolan (mm) | Type Sinyal / Pulsar | Sistem Pengapian |
| 1 | Honda | Supra / Legenda | 11.3 | Single - Positif | AC |
| Kirana | 14.0 | Single - Positif | DC | ||
| Meg Pro | 15.4 | Single - Positif | DC | ||
| Tiger 2000 / Phantom | 24.0 | Single - Positif | AC | ||
| Kharisma / CS1 | 38.0 | Single - Positif | DC | ||
| Sonic 125 / CBR | 38.0 | Single -Negatif | DC | ||
| Vario / Click | 38.0 | Single - Positif | DC | ||
| Beat | 38.0 | Single - Positif | DC | ||
| 2 | Yamaha | Vega-R / F1ZR | 57.5 | Double - Positif | AC |
| Jupiter-Z / Mio / Nouvo | 57.5 | Double - Positif | DC | ||
| RX King | Single - Positif | AC | |||
| Jupiter MX | 57.5 | Double - Positif | DC | ||
| 3 | Suzuki | Shogun 110 | 14.0 | Single - Positif | DC |
| Smash 110 | 16.0 | Double - Positif | DC | ||
| Shogun 125 | 30.0 | Single - Positif | DC | ||
| Satria 120 R | 30.0 | Double - Positif | DC | ||
| Satria 150 F | 39.0 | Double - Positif | DC | ||
| Spin / Sky Wave | 41.7 | Single -Negatif | DC | ||
| Thunder 125 | 47.0 | Single - Positif | DC | ||
| Thunder 250 | 70.7 | Single - Positif | DC | ||
| 4 | Bajaj | Pulsar 180 / 200 | 44.0 | Single - Positif | AC |
| 5 | TVS | Neo | ? | ? | ? |
| Apache | ? | ? | ? | ||
| 6 | Kawasaki | KZX 130 | 38.0 | Single - Positif | DC |
| Kaze R | 12.0 | Single - Positif | AC | ||
| Ninja RR | 9.0 | Single - Positif | DC |
Kata Kunci :
Kurva pengapian (ignition Timing Curve) suatu mesin ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :
- Jenis bahan bakar
- Bentuk ruang bakar
- Panjang langkah (stroke)
- Noken As (Cam Shaft)
- Perbandingan Kompresi (Compression Ratio)
kiprok
Coba lageee,… perhatikan kalau beli motor baru… teruz distarter dan dinyalakan… headlamp menyala dengan stabil… !!!
yang jeasnya :
kiprok atau Regulator rectifier atau Silicon Controlled Rectifier.
Berfungsi sebagai penyearah arus, dari arus bolak balik AC yg dihasilkan dari magnet dan spull menjadi arus DC yang arus DC tsb digunakan dalam Charging ACCU (aki) yang notabene instrument2 seperti lampu sign, klakson serta instrumen2 speedometer dll sangat tergantung dari tenaga ACCU. Selain itu Kiprok juga berfungsi mengatur kestabilan aliran arus listrik untuk dikirim ke pengapian (CDI ->koil-->busi) sesuai putaran mesin.
Posisi kiprok ada dibawah tangki bensin & dibaut ke rangka.
Pada motor2 Raja yg dikorek baik korek ringan maupun korek kelas berat, sering fungsi kiprok tsb tidak digunakan alias gak pake kiprok oleh mekanik2 ato bengkel2nya ato memang kabel bodynya sudah dilepasin berikut kiprok dan ACCU-nya. Efek utama yang dikejar adalah cepatnya respon tarikan mesin pada motor raja yg tidak pake Kiprok. Untuk lengkapnya seperti dibawah ini:
1. arus yg dihasilkan lebih cepat dan besar, tapi naik turunnya arus juga cepat secepat naik turunnya putaran mesin. Respon tarikan mesin juga jadi lebih cepat, terutama pada putaran bawah yang terasa sekali naiknya perubahan. Ini dikarenakan arus yg mengalir ke CDI yg diteruskan ke koil dst lebih murni tanpa ada fungsi kiprok yaitu menstabilkan arus sehingga perubahan naik turunnya arus pada putaran mesin lebih datar ato tidak secepat naik dan turunnya putaran mesin tanpa kiprok.
2. lampu headlamp akan sangat terang sekali karena arusnya cukup besar dan cepat. Dan pada putaran2 tinggi bohlam headlamp standar akan sering putus karenanya.
3. tidak berfungsinya ACCU yang otomatis part instrument seperti klakson, lampu sign dll juga tidak berfungsi karena ACCU tidak dapat di charging yg notabene banyak part instrument tsb bergantung pada ACCU seperti klakson, sign dll.
Kita bisa memodifikasi fungsi kiprok sesuai kebutuhan kita dengan mengetahui fungsi2 kabel dikiprok tsb.
1. Kabel hitam = masa
2. Kabel merah = instrument, klakson, sign dll.
3. Kabel putih = charging accu
4. kabel kuning strip merah = menstabilkan arus ke pengapian.
Untuk mendapatkan tenaga listrik murni untuk pengapian seperti pada motor2 raja yg tidak pake kiprok, cukup putuskan kabel kuning strip merah pada kiprok. selebihnya tetap terhubung dgn kiprok. Efeknya tarikan akan lebih responsif apalagi pada putaran bawah, tetapi top speed tetap tidak berubah sesuai torsi mesin, dan instrument yang lain (klason, sign, charging ACCU dll) tetap bekerja normal. (gbr.1)
Bila headlamp Raja anda tidak terang, bisa jadi salah satu penyebabnya kiprok anda sudah kurang bekerja maksimal ato lemot. Anda bisa mengakalinya dengan melepas batasan arus di kiprok (kabel putih=charging ACCU) tetapi bohlam headlamp standar RX-king anda harus diganti dengan yang lebih besar watt-nya agar tetap kuat pada arus besar pada saat putaran mesin tinggi. Anda juga bisa memasang saklar di stang ato memodifikasi fungsi saklar standar King di stang anda agar mudah untuk memutus & dan menyabung (on/off) fungsi charging ACCU yang sangat banyak memakan arus, sehingga fungsi instrument, klakson, sign dll tetap bisa bekerja. Kalo anda butuh untuk menggunakan lampu sign ato klakson tinggal swicth chargingnya dihidupkan setelah itu bisa dimatikan tergantung kebutuhan anda. Soalnya bisa pusing kalo diberhentikan polisi lalu instrument seperti lampu sign, taillamp, klakson kita gak nyala. Direkomendasikan memakai bohlam headlamp minimal type halogen 55watt keatas. Bila memakai bohlam halogen 55watt keatas, batok,kaca dan reflektor headlamp Raja harus yang asli ato orisinil karena kalo yg imitasi bisa gak kuat ato bisa meleleh kena panas bohlam tsb. Cahaya headlamp yang dihasilkan dari modifikasi tsb akan sangat terang sekali. (gbr.2)
ciri kiprok mati..
mau tanya ciri-ciri kiprok mati atau dah lemah gimana si...????
kiprok mati/dah lemah gejala na pengisian aki berkurang,lampu motor redup walau sudah digas.
klo air aki masih di batas normal ya gpp kok...,
Kiprok-nya yang berapa kaki bro (jumlah terminal).
Ambil contoh kiprok bebek Honda Supra ada 4 kaki (kabel warna putih, kuning, hijau dan merah). Tugasnya selain buat pengisian (mengubah arus AC jd DC) juga sebagai penyetabil (jika pengisian berlebih akan dibuang ke massa).
Nah, kalo yang rusak fungsi pengisian maka aki akan tekor. Tapi kalo yang rusak fungsi penyetabil maka justru bisa overcharge. Misal lampu depan atau lampu panel speedometer sering putus. Ciri lainnya saat putaran mesin dinaikkan, lampu tambah terang hingga putus. Harusnya nyala lampu tetap stabil (meski lampu bukan langsung dari aki ya).
Paling valid ngecek kondisi kiprok dengan menggunakan multitester. Ada data pengukuran sesuai jenis kiproknya. Beda motor, beda datanya.
Periksa Accu dan Kiprok
Trouble Shooting Kelistrikan Motor
Menganalisa masalah kelistrikan motor memang terkadang gampang-gampang susah. Ada masalah pada lampu yang tak mau menyala atau redup, starter elektrik tak berfungsi baik dan lampu sein tak bekerja sempurna, langsung yang terpikir adalah masalah ada pada accu nya. Tak sedikit dari bikers yang harus membeli accu baru, tapi tak menyelesaikan masalah. Justru masalah yang sama tetap ada meski accu sudah diganti dengan yang baru.
Dalam menganalisa masalah kelistrikan motor, ada beberpa unsur yang harus diperhatikan selain accu.
Biasanya dalam Trouble Shooting untuk kelistrikan motor menggunakan skema duri ikan. Dimana accu adalah komponen pertama yang dilakukan pemeriksaan. Setelah accu pemeriksaan diarahkan ke Wiring atau pengkabelan, berlanjut ke Regulator, dan terakhir Generator.
Lakukan pengecekan accu dengan Multitester untuk mengetahui apakah voltase masih berada dalam kondisi normal. Jika jarum multitester menunjukan angka dibawah 7 volt, coba charge ulang accu tersebut. Kalau sudah dicharge dan dalam waktu yang singkat voltase kembali berkurang, perlu dicurigai adanya hubungan arus pendek.
Terkadang ada dibeberapa bagian kabel yang mulai getas atau rapuh, sehingga saat terjadi gesekan dengan bodi atau rangka, kulit kabel mudah terkelupas. Hal ini juga memicu permasalahan kelistrikan atau konslet.
Yang tak kalah penting mendapat pemeriksaan adalah kiprok atau dalam bahasa teknis nya disebut sebagai regulator rectifier. Saat kiprok bermasalah, terkadang analisa bengkel pun salah dan langsung menuju pada accu. Entah karena ingin mendapat keuntungan dari penjualan atau karena memang sang mekanik tak paham dalam mengatasi masalah kelistrikan.
Biasanya jika kiprok bermasalah, usia accu tak akan lama karena arus listrik dari spul yang seharusnya dialirkan ke accu untuk pengisian balik tertahan di kiprok. Jika itu terjadi, secara otomatis aki akan tekor.
Pengecekan bisa dilakukan dengan mengukur voltase yang dihasilkan kiprok dengan multitester. Jika voltasenya melebihi batas yang ditentukan, berarti kiproks memang bermasalah.
Saat melakukan pemeriksaan dengan multitester, gunakan pengukuran arus DC dan atur saklar meter pada posisi 50 volt. Lakukan pengukuran voltase kiprok dengan menempelkan jarum positif multitester dengan kabel positif accu. Sedangkan jarum negatif mulitester ditempelkan di bodi atau kutup negatif accu.
Cara mengukurnya, lepaskan kutup positif pada accu dan hidupkan mesin dengan kickstarter. Bersamaan dengan gas dibuka hingga putaran mesin ke 3000 rpm atau lebih, perhatikan jarum penunjuk multitester. Jika angka yang ditunjuk melebihi 14 volt, itu tandanya kiprok memang sudah tak layak pakai.
Tapi yang perlu jadi catatan, pemeriksaan ini sesuaikan dengan buku manual. Karena setiap merek dan tipe motor biasanya memiliki batasan tersendiri.
Menganalisa masalah kelistrikan motor memang terkadang gampang-gampang susah. Ada masalah pada lampu yang tak mau menyala atau redup, starter elektrik tak berfungsi baik dan lampu sein tak bekerja sempurna, langsung yang terpikir adalah masalah ada pada accu nya. Tak sedikit dari bikers yang harus membeli accu baru, tapi tak menyelesaikan masalah. Justru masalah yang sama tetap ada meski accu sudah diganti dengan yang baru.Dalam menganalisa masalah kelistrikan motor, ada beberpa unsur yang harus diperhatikan selain accu.
Biasanya dalam Trouble Shooting untuk kelistrikan motor menggunakan skema duri ikan. Dimana accu adalah komponen pertama yang dilakukan pemeriksaan. Setelah accu pemeriksaan diarahkan ke Wiring atau pengkabelan, berlanjut ke Regulator, dan terakhir Generator.
Lakukan pengecekan accu dengan Multitester untuk mengetahui apakah voltase masih berada dalam kondisi normal. Jika jarum multitester menunjukan angka dibawah 7 volt, coba charge ulang accu tersebut. Kalau sudah dicharge dan dalam waktu yang singkat voltase kembali berkurang, perlu dicurigai adanya hubungan arus pendek.
Terkadang ada dibeberapa bagian kabel yang mulai getas atau rapuh, sehingga saat terjadi gesekan dengan bodi atau rangka, kulit kabel mudah terkelupas. Hal ini juga memicu permasalahan kelistrikan atau konslet.
Yang tak kalah penting mendapat pemeriksaan adalah kiprok atau dalam bahasa teknis nya disebut sebagai regulator rectifier. Saat kiprok bermasalah, terkadang analisa bengkel pun salah dan langsung menuju pada accu. Entah karena ingin mendapat keuntungan dari penjualan atau karena memang sang mekanik tak paham dalam mengatasi masalah kelistrikan.
Biasanya jika kiprok bermasalah, usia accu tak akan lama karena arus listrik dari spul yang seharusnya dialirkan ke accu untuk pengisian balik tertahan di kiprok. Jika itu terjadi, secara otomatis aki akan tekor.
Pengecekan bisa dilakukan dengan mengukur voltase yang dihasilkan kiprok dengan multitester. Jika voltasenya melebihi batas yang ditentukan, berarti kiproks memang bermasalah.
Saat melakukan pemeriksaan dengan multitester, gunakan pengukuran arus DC dan atur saklar meter pada posisi 50 volt. Lakukan pengukuran voltase kiprok dengan menempelkan jarum positif multitester dengan kabel positif accu. Sedangkan jarum negatif mulitester ditempelkan di bodi atau kutup negatif accu.
Cara mengukurnya, lepaskan kutup positif pada accu dan hidupkan mesin dengan kickstarter. Bersamaan dengan gas dibuka hingga putaran mesin ke 3000 rpm atau lebih, perhatikan jarum penunjuk multitester. Jika angka yang ditunjuk melebihi 14 volt, itu tandanya kiprok memang bermasalah.
Tapi yang perlu jadi catatan, pemeriksaan ini sesuaikan dengan buku manual. Karena setiap merek dan tipe motor biasanya memiliki batasan tersendiri.
| "Dulu belum tahu, iseng beli kiprok imitasi yang harganya sekitar Rp 15-35 ribuan. Meski dari tampak luar punya bentuk sama, begitu dipasang enggak lama dipakai aki mendadak tekor. Bahkan cahaya lampu yang awalnya terang pun ikutan redup. Begitu ditelusuri baru terbukti, komponen dalam kiprok imitasi beda dengan orisinal. Terutama part number pada salah satu komponennya," sesal Hari Samon, pemilik Honda Supra X. Mendengar pengalaman Hari, Tomy Huang bos sekaligus pembuat CDI BRT yang juga memproduksi kiprok untuk merek ternama di Tanah Air, tidak tinggal diam. Pria berkacamata ini mewanti agar pengguna motor yang kerap bermasalah dengan piranti ini tidak sampai mengalami kejadian begitu berulang kali.2827hal14_kiproksupra_boyo2.jpg Coba saja kalau konsumen lebih dari empat kali salah beli kiprok dengan harga rata-rata Rp 15-35 ribu. Jika digabung, mereka itu bisa beli kiprok orisinal atau KW2 yang harganya berkisar antara Rp 75 sampai 150 ribuan. Urusan pun langsung dijamin beres. Lebih lanjut dijelaskan, selain tidak dianjurkan beli kiprok palsu, Tomy Huang juga berpesan agar konsumen lebih teliti. Terutama spek motor khususnya aki dan beban bohlam. Misal kiprok Honda Supra X 125. Disarankan beli kiprok yang speknya benar untuk motor itu. Lantaran kode komponen di dalam rangkaian instrumen kiprok yang diterapkan, sudah sesuai dengan spek aki dan kebutuhan beban arus bohlam lampu pada motor itu (gbr. 2). "Kalau aki motor pakai 5Ah, usahakan jangan pakai kiprok untuk motor ukuran aki 3Ah. Atau bohlam 25 watt pakai kiprok 18 watt. Jangan dilakukan. Wajar kalau aki gampang tekor dan cahaya lampu kurang terang. Makanya jangan asal pilih murah. Pilih orisinal atau KW2 berkualitas," tutup pria berkacamata itu. |
pengertian ignition coil
Koil merupakan Sebuah kumparan elektromagnetik(transformator) yang terdiri dari sebuah kabel tembaga terisolasi yang solid (Kawat tembaga/email)dan inti besi yang terdiri atas kumparan primer dan kumparan sekunder. Coil merupakan trasformator stepup yang berfungsi menaikkan tegangan kecil 12v dari kumparan primer menjadi tegangan tinggi 15.000volt pada kumparan sekunder.
Pembangkitan tegangan tinggi koil di timbulkan oleh triger dari device koil driver yang bisa berupa platina, CDI atau TCI ignition sistem, semua sistem ignition modul merupakan trigger koil untuk membangkitkan tegangan tinggi sesuai dengan jenis kendaraan dan sistem yang diinginkan.
Pemanfaatan tegangan tinggi koil memang di peruntukkan untuk mensuplai busi agar mendapatkan percikan api yang sempurna dengan harapan mampu meningkatkan performa mesin bermotor. Dengan adanya tegangan yang kurang tinggi mengakibatkan percikan kurang maksimal sehingga campuran bahan bakar dan udara menjadi tidak terbakar secara sempurna, walhasil tenaga mesin menjadi kendor
membuat cdi ac
Berbagai mode dan design sirkuit diagram dalam membuat rangkaian CDI yang tentunya untuk mencapai hasil tegangan yang optimal dan akurasi advance timing sesuai kebutuhan pengguna ataupun standart dari masing2 mesin motor yang kita tunning.
Salah satu contoh simpel membuat CDI motor anti ribet, seperti contoh schematic diagram berikut ini :
CDI yang simpel ini hanya membutuhkan beberapa komponen pasif dan 1 komponen aktif yang sudah tentu mudah kita dapatkan di pasar indonesia ini. Dengan rangkaian yang simpel tentu kita akan mudah untuk berkarya dan berkreatifitas sendiri untuk membuat sebuah CDI buat motor kita yang mungkin lagi ngadat atau ingin experiment lebih mendalam tentang CDI motor.
Component:
R1=22K Ohm
R2=1K Ohm
C1=3,3uF/50V
C2=1 uF/400V
D1,2,3=IN4007
SCR=2P4M
Komponen bisa kita rubah/ganti dengan kreteria yang sesuai dan banyak kita ketemukan.
- Delco Kijang 1.8 EFI
- Cara Memeriksa Tahanan/Hambatan Koil
- Cara Mengukur Kabel Busi | Spark Plug Wire
- Tegangan Min Coil Pada Saat Platina Membuka dan Menutup
- Cara Cek Sentrifugal Delco
- Cara Test Delco Honda Genio
- Cara Instalasi Delco Kijang Internal CDI Denso
- Vacum Delco
- Mengatur Advance Timing (Saat Pengapian Motor Cycle)
- Penyebab Platina Terbakar
- Cara Tes CDI Mobil
- Kenapa Pulser Sistem Pengapian Motor Berada di AS kruk
- Memahami Fungsi Rotor Distributor
- Cara Test Pulser / Pick up Coil
- Memahami Komponen-Komponen CDI
- Memahami Reluctor CDI Nippon/Marui
- Prinsip Kerja CDI AC dan CDI DC
- Beda CDI dan TCI
- Macam-Macam Driver Coil Ignition
- Cara Service Delco (Distributor Ignition)

00.04
bruell




